September 23, 2008

For ESA Members!

Kepada ESA members, para mahasiwa bahasa inggris FKIP UNTAN yang semangatnya telah pudar untuk melakukan perubahan, yang melupakan tugas mulia dipundaknya dan yang rela dipermainkan idealismenya. Semangat yang pudar takkan kembali jika kita tak bergerak dan kita akan seperti kerbau dicucuk hidung, ngikut terus!
Mahasiswa dipilih karena peran dan tugasnya sebagai agent of change. Mahasiswa yang berperan sebagai agen perubah berdasarkan moral dan intelektualitas. Dengan bekal idealisme, mahasiswa bergerak untuk mengusung perubahan. Perubahan yang dianggap perlu untuk menuntaskan keadilan yang telah tenggelam lama karena perbuatan orang-orang yang mengaku dirinya memiliki kuasa.
Dimana anggota ESA yang mengaku mahasiswa? Karena fakta membuktikan anggota ESA baik anggota muda maupun anggota biasa kebanyakan bertindak seperti siswa ”dosen kencing berdiri mahasiswa kencing berlari”. Dosen terlambat, suka! Mindahin jadwal, iya! Ngga masuk, tertawa! dan nilai ngga sesuai dengan usaha, merana! tanpa ada wacana untuk protes dan hanya berani mengumpat dan bicara belakang saja. Seharusnya sebagai mahasiswa kita wajib kritis dalam menyingkapi masalah-masalah yang ada. Jangan hanya bisa melakukan 3K (Kuliah,Kost,Kantin), kegiatan rutin anak kuliahan bukan mahasiswa.
Kepada anggota ESA yang tertidur! Apakah kawan-kawan rela menjadi kerbau? Atau memang keenakan menjadi kerbau? Kerbau yang dicucuk hidung. Ngikut terus walaupun kita keberatan dengan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh mereka di prodi. Seperti menambah pertemuan dengan dalih materi belum sampai atau kehadiran tidak sampai 75%? Atau nilai yang keluar tanpa perincian dan dosen yang tidak objektive dalam memberi nilai.
Kepada anggota ESA walaupun kawan-kawan ngga peduli sama ESA, ngga peduli pada kegiatan – kegiatan ESA dan intervensi yang dilakukan ketua prodi kepada ESA tapi yang ESA harapkan kawan-kawan bangun dari tidur kawan-kawan. Jadilah mahasiswa sesungguhnya, jadilah agent of change, iron stock dan agent social.
Bagi yang merasa dirinya mahasiswa, ESA masih menunggu kawan-kawan anggota ESA yang masih ingin jadi mahasiswa, bukan anak kuliahan. ESA masih menunggu para mahasiswa bahasa inggris yang merindukan perubahan. ESA menantikan bangunnya anggota ESA dari tidur untuk sebuah keadilan. Keadilan bagi mahasiswa bahasa inggris.
ESA!!!! Ace your sleeve, stand and fight
ESA MEMBERS!!! Too young to die, too hard to break

September 21, 2008

KEYAKINAN YANG TELAH MENJADI KENANGAN (buat teman-teman yang masih galau dan yang sedang berjuang)

“Iya, tapi dulu kan kita juga gitu”

“Memang, kalau dulu memang begitu”

Itulah sepenggal perdebatan teman sewaktu kebingungan mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi di masa sekarang. Pada saat mereka pertama kali menginjakkan kaki mereka ke kehidupan para intelektual mereka telah diajarkan untuk bagaimana bisa berfikir dan menelaah secara mendalam dan dari berbagai sisi. Tapi kini, setelah beberapa tahun mendiami dunia para intelektual yang penuh dengan sisi ilmiah mereka melihat banyak kejanggalan yang ternyata hanya layak hadir di dunia para gelandangan.

Masih teringat ketika pertama kali mereka mengikuti acara perkenalan dengan dunia para ilmuwan, mereka datang dan melihat apa yang tidak mereka bayangkan sebelumnya untuk pertama kalinya. Dunia ilmuwan yang katanya penuh dengan sisi moralitas tinggi dan tersistematis serta dapat dipertanggungjawabkan ternyata diperlihatkan dengan sangat berbeda. Apakah benar ini dunia yang seharusnya saya masuki?

Dua sampai empat bulan pertama di dunia indah yang penampilannya tidak diharapkan ternyata perlahan mulai menampakkan kebenaran dan cahaya yang sebernarnya tentang apa dunia yang dimasuki ini. Ternyata dunia gelandangan ini lekat dengan dunia para intelek yang dengan bangganya menyandang tambahan nama di belakang nama mereka sebagai suatu bentuk yang harus dihormati tanpa pengecualian, dan sebaliknya.

Satu sampai dua tahun pertama makin menguatkan hipotesa tentang apa dunia ini sebenarnya. Para penerima gelar yang terhormat ini makin menunjukkan sifat dan watak asli mereka – walaupun tidak semua namun itulah yang mendominasi. Perbuatan dan kelakuan yang semakin membingungkan dan bisa semakin menguatkan keyakinan bahwa dunia intelektual mereka sama dengan dunia para gelandangan.

Pengalaman inilah yang membentuk keyakinan di dada teman-teman yang berdebat di atas. Kita inilah calon penerus bangsa, tapi mengapa kami dibangun dengan hal-hal yang sebenarnya merusak bangsa kami sendiri. Sesi demi sesi yang diberikan oleh para penerima tambahan nama tersebut tak ubahnya seperti sebuah penjajahan berkedok pembebasan selama 100 menit dan terus terjadi bertahun-tahun. Sesi-sesi tersebut dipaksakan atas nama pencerahan yang harus ditularkan kepada orang-orang yang akan ditemui di kehidupan luar di luar dunia ini, kehidupan luar yang digambarkan sangat indah dan tanpa cela.

Lalu bagaimanakah cara membentuk dunia itu ketika orang yang akan membentuknya justru dibentuk dengan hal-hal yang jauh menyimpang dari struktur dunia indah tersebut. Hal-hal menyimpang tersebut bahkan diwujudkan dengan kulit yang bercahaya yang dari jarak 100 meterpun orang dapat mengenalinya.

Hal menyimpang lainnya juga diwujudkan dengan mengajari bagaimana cara berias di depan orang banyak. Walau tidak punya cukup tenaga untuk bekerja, dapat mempengaruhi orang saja sudah cukup. Kalau sudah dapat mempengaruhi orang lewat riasan lalu mengapa harus susah-susah bekerja?

“Iya, tapi dulu kan kita juga gitu”

“Memang, kalau dulu memang begitu”

“Tapi kita sudah melihat semuanya, dan ini tidak bisa terus dibiarkan begitu saja!”

“Lalu kita bisa apa? Mengatakannya di depan mereka? Mereka akan balik menuding kita dan mengatakan kita tidak sopan dan tak tahu etika, bahkan kriminal”

“Lalu kita duduk-duduk di sini saja dan berdoa sambil menunggu superman datang dan mengatakan kebenaran kepada mereka?”

“Sebaiknya kita istirahat saja dulu. Kita sudah sangat kelelahan”

Perdebatan menjadi semakin panjang. Teman-teman ini sudah jenuh dengan ambiguitas yang ditunjukkan di dunia intelektual ini. Semuanya sudah menjurus kepada kebenaran hipotesa mereka di awal. Seluruh kejadian semakin mengarah kepada pembuktian yang jelas bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres di sini. Tingkah laku yang diperlihatkan kepada mereka semakin jelas menuju bahwa mereka sebenarnya sedang dalam proses pembentukan jati diri demi kepentingan yang mereka tidak ketahui, yang jelas kepentingan tersebut bukanlah seperti yang mereka harapkan sejak awal.

Tapi sebenarnya ketiadaan temanlah yang membuat semuanya menjadi semakin parah. Keyakinan yang terbukti secara terang diredupkan oleh ketiadaan orang-orang dekat yang mau sama-sama menunjukkan cahaya yang terang itu sebenarnya, bukan cahaya palsu yang tampak dari jarak 100 meter itu. Segala usaha yang diupayakan demi menunjukkan cahaya sesungguhnya tersebut lenyap ditelan kegelapan yang bernama putus asa, ketakutan dan penjilatan. Cahaya inilah yang sesungguhnya berusaha dipadampakan sejak awal, karena dengan cahaya inilah dunia luar bisa dibentuk dengan struktur yang benar dan dengan pondasi yang tak mampu ditelan oleh kelamnya kegelapan.

Ketiadaan teman juga memberikan pengaruh pada cahaya tersebut sehingga mudah padam, tidak ada penyatuan energi dari cahaya-cahaya kecil yang dibawa oleh pertemanan. Walaupun cahaya dari seorang teman itu sangat redup ketika mereka disatukan maka teranglah dunia intelektual ini. Dengan memiliki banyak sumber cahaya maka cahaya-cahaya redup ini dapat dengan mudah dihidupkan kembali apabila salah satu cahaya redup tersebut padam.

Ketiadaan teman juga telah meremukkan struktur dalam cahaya tersebut. Kini cahaya itu telah redup dan strukturnya juga telah rapuh, lalu apa yang bisa diharapkan dari tatanan seperti itu?

“Iya, tapi dulu kan kita juga gitu”

“Memang, kalau dulu memang begitu”

“Tapi kita sudah melihat semuanya, dan ini tidak bisa terus dibiarkan begitu saja!”

“Lalu kita bisa apa? Mengatakannya di depan mereka? Mereka akan balik menuding kita dan mengatakan kita tidak sopan dan tak tahu etika.”

“Lalu kita duduk-duduk di sini saja dan berdoa menunggu superman datang dan mengatakan kebenaran kepada mereka?”

“Sebaiknya kita istirahat saja dulu. Kita sudah sangat kelelahan”

“Tapi kita harus terus berjuang!”

“Iya, tapi jangan butakan matamu akan sekelilingmu. Mereka belum siap untuk itu. Karena hanya untuk merekalah kita memperjuangkan hal ini!”

“Aku bisa memahami kekhawatiranmu. Tapi paling tidak keyakinan ini pernah menerangi segenap ruang hatiku walau kini keyakinan itu kusimpan rapat-rapat di tempat yang kuharapkan bisa ditemukan oleh adik-adik kita dua atau tiga tahun mendatang.”

“Dan jika waktu itu tiba barulah dunia ini diterangi oleh cahayanya tanpa menyisakan sedikitpun kegelapan.”

“Sebaiknya kita berdoa saja.”

September 19, 2008

Kampus Yang Tidak Demokratis

Berawal dari terhambatnya kegiatan SCALDS dan Borneo Hard Rock Festival XIV disebabkan kebijakan Ka.Prodi yang menurut bahasanya belum mau memberikan rekomendasi,pengurus dan anggota ESA memutuskan untuk mengadakan Public Hearing guna membicarakan hal tersebut setelah jalur dialog langsung dengan Ka.Prodi tidak bisa dilakukan dikarenakan pihak Ka.Prodi yang membatasi dirinya hanya ingin bicara dengan Direktur ESA ternyata tidak bisa diajak melakukan dialog yang sehat dan demokratis. Selain itu pihak pengurus ESA juga banyak mendapat keluhan dari anggotanya dan kawan-kawan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang mengeluhkan berbagai kebijakan akademik yang justru menyulitkan perkuliahan mereka,seperti Ka.Prodi yang tidak profesional mengurusi penyusunan skripsi,dosen yang seenaknya memindahkan jadwal kuliah dan pemberian nilai yang tidak objektif.

Dikarenakan alasan di atas diadakanlah Public Hearing oleh pengurus ESA pada tgl 18 September 2008,pukul 1 siang di Aula FKIP Untan dengan agenda membahas SCALDS,BHRF XIV dan masalah layanan akademik. Tapi ternyata begitu Public Hearing ini dimulai pihak Prodi mulai menunjukkan kesewenangannya dengan seenaknya mengubah agenda yang telah disiapkan dengan membatasi agenda hanya pada masalah SCALDS dan BHRF XIV serta Somasi dari saudara Ireng Maulana yang sebetulnya tidak ada sangkut pautnya dengan ESA kemudian mengatur jalannya Public Hearing melangkahi Moderator acara.

Seiring berjalannya Public Hearing ini pihak Prodi semakin menunjukkan sikap tidak demokratis dengan membatasi kesempatan pihak mahasiswa dalam mengajukan pendapat dan pertanyaan,sementara pihak Prodi menolak untuk dibatasi dalam mengeluarkan pendapatnya. Belum lagi pernyataan Ka.Prodi yang mengatakan bahwa dirinya tidak menerima interupsi. Lucu sekali,ini forum terbuka Bu! Kita memiliki moderator yang menentukan apakah interupsi itu diterima atau tidak,bukan peserta yang menentukan.

Dari Public Hearing ini dapat diambil kesimpulan ternyata demokrasi yang menjadi dasar negara kita justru tidak berlaku di kampus. Ironis,kampus yang mengaku sebagai tempat menciptakan tenaga pendidik yang berkualitas,cerdas dan intelek ternyata tidak mengenal demokrasi.

September 18, 2008

Kala "Yang Berharga" Terusik

S O M A S I

Kepada YTH.

Saudari Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

di

Tempat

Dengan Hormat,

1. Tidak beralasan apabila Saudari Ketua Program Studi Bahasa Inggris coba untuk menggagalkan terselenggaranya Kegiatan Borneo Hard Rock Festival milik English Student Association FKIP UNTAN, karena;

  • Borneo Hard Rock Festival bukan hanya milik mahasiswa Bahasa Inggris FKIP UNTAN tetapi perjalanan sejarahnya telah menjadikannya menjadi milik publik dan seluruh pecinta musik yang ada di Kalimantan Barat.
  • Borneo Hard Rock Festival merupakan satu–satunya festival musik yang berkualitas dengan performa kegiatan yang paling baik di Kalimatan barat.
  • Borneo Hard Rock Festival memperebutkan piala bergilir Danrem 121 ABW dan Piala tetap Rektor UNTAN, yang secara simbolik mempresentasikan bahwa tidak ada sesuatu yang jelek dari Borneo Hard Rock Festival sehingga seharusnya didukung.
  • Borneo Hard Rock Festival sebagai sebuah kegiatan mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura telah memiliki dokumen legal formal melalui SK
  • Borneo Hard Rock Festival yang telah dilaksanakan selama 14 tahun sejak tahun 1994 tidak pernah menyebabkan kerugian baik secara materil, moral ataupun mencemarkan nama baik pihak Universiatas Tanjungpura.
  • Publik secara luas mengenal Program Studi Bahasa Inggris salah satunya melalui Borneo Hard Rock Festival dan English Student Association dan memberikan kontribusi promosi bagi Program Studi Bahasa Inggris.
  • Borneo Hard Rock Festival yang telah dilaksanakan selama 14 tahun sejak tahun 1994 tidak pernah menyebabkan adanya tindakan kekerasan, perkelahian, maupun tindakan kriminal lainnya selama diselenggarakan.
  • Boreno Hard Rock Festival yang telah dilaksanakan selama 14 tahun sejak tahun 1994 selalu mengusung pesan–pesan moral yang dapat menggugah Publik dan para pecinta musik di Kalimantan Barat melalui jargon–jargon Say No to Drug, No Violence, dan seperti tahun ini membawa pesan Save Our Nation
  • Borneo Hard Rock Festival merupakan kawah candradimuka bagi musisi Kalimantan Barat untuk menguji keterampilan mereka dalam bermusik, karena Festival ini dianggap paling berkualitas untuk menjajal skill tiap musisi.

2. Apabila Saudari Ketua Program Studi Bahasa Inggris berniat untuk menggagalkan terselenggaranya kegiatan Borneo Hard Rock Festival, maka yang bersangkutan harus bertanggungjawab terhadap kerugian yang ditimbulkan karena hilangnya kegiatan tersebut, tidak hanya merugikan ESA FKIP UNTAN sebagai organisasi pelaksana tapi publik secara luas yang mendapatkan manfaat dengan adanya kegiatan dimaksud;

  • Kerugian materil yang ditanggung oleh panitia sebesar Rp 30.000.000, pada tahun ini dan setiap kali penyelenggaraan Borneo Hard Rock Festival sesuai dengan fluktuasi mata uang di tiap tahunnya
  • Memberikan klarifikasi dan verifikasi tertulis kepada satu sponsorship tunggal dan puluhan sponsorship pendamping kegiatan yang membiayai kegiatan dimaksud
  • Memberikan klarifikasi dan verifikasi langsung dan tertulis kepada Danrem 121 / ABW sebagai pihak yang memberikan Piala Bergilir, yang Tropi nya yang baru saja di ganti dengan yang baru oleh pihak Danrem
  • Kerugian immateril dengan hilangnya kesempatan bagi seluruh musisi Kalimantan Barat untuk mengekspresikan diri, kehilangan ruang untuk berprestasi, membunuh wadah yang dapat menyalurkan minat dan bakat para kaum muda di Kalimantan Barat yang mencintai musik serta menghilangkan kesempatan bagi publik secara luas untuk mendapatkan hak menghibur diri melalui pertunjukkan musik

3. Atas dasar hal tersebut diatas, kami melayangkan SOMASI sebagai bentuk PERINGATAN KERAS agar Saudari Ketua Program Studi Bahasa Inggris dapat mengubah sikapnya yang tidak menyenangkan ini, dan apabila tidak bersedia, maka;

  • Memerintahkan kepada ESA FKIP UNTAN sebagai organisasi pelaksana untuk melakukan demonstrasi dengan tuntutan supaya Saudari mundur dari jabatannya sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
  • Memerintahkan kepada ESA FKIP UNTAN sebagai organisasi pelaksana untuk melakukan boikot apapun kegiatan yang akan Saudari lakukan di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNTAN
  • Dan sejak somasi ini disampaikan dan tidak di indahkan serta tidak ada tanda – tanda perubahan sikap dari saudari, maka kami akan mengambil langkah - langkah yang dianggap perlu untuk melawan sikap tidak menyenangkan saudari dengan mempertimbangkan akan melakukan upaya hukum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Pontianak, 13 September 2008

Yang melayangkan SOMASI,

Ireng Maulana

Perwakilan Anggota Luar Biasa ESA FKIP UNTAN

Tembusan :

  1. Purek III Universitas Tanjungpura
  2. Dekan FKIP Universitas Tanjungpura
  3. PUDEK III FKIP Universitas Tanjungpura
  4. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP UNTAN